Triple Burden of Malnutrition Jadi Tantangan bagi Generasi Emas Indonesia

Multinewsmagazine.com – Kendati Indonesia menjadi model global dalam pembangunan dan kesehatan, namun Indonesia menghadapi tiga beban masalah gizi, yakni dalam hal kekurangan gizi, kelebihan berat badan, dan defisiensi mikronutrien (hidden hunger) terutama pada ibu, anak, dan remaja. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Rina Agustina, M.Gizi, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada Sabtu (27/1), di Aula IMERI FKUI Salemba.

Prof. Rina mengatakan bahwa permasalahan gizi dan kesehatan ibu, anak, serta remaja sangat penting dan mendesak untuk dicegah dan ditangani. Apalagi, saat ini Indonesia berada di ambang bonus demografi hingga 2035, sehingga memerlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Untuk itu, Prof. Rina mengusung inovasi modulasi mikrobiota saluran cerna serta penekanan pada kualitas diet dan pangan berkelanjutan untuk meningkatkan kecerdasan dan kesehatan ibu, anak, dan remaja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ia menemukan bahwa pemberian probiotik yang tepat dapat menurunkan risiko diare pada anak, mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dan memperkuat imunitas, sedangkan diet berkualitas tinggi dapat memperbaiki fungsi kognitif, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan ekonomi. Kualitas diet dapat diukur dari kecukupan gizi yang menyediakan energi dan zat gizi sesuai kebutuhan individu; variasi atau keanekaragaman pangan yang meliputi konsumsi beragam makanan seperti biji-bijian, buah, sayur, ikan, daging, kacang, dan produk susu; serta moderasi, yakni menghindari atau membatasi makanan tinggi lemak, gula, dan natrium. Di sisi lain, keamanan pangan juga merupakan aspek penting dari pola makan yang berkualitas.

Saat terlibat sebagai commissioner di Report EAT-LANCET Commission di Lancet tahun 2019, Prof. Rina mempelajari konsep planetary healthy diet yang menekankan pada keberagaman makanan dan pola makan berkelanjutan. Tujuan strategi ini untuk penurunan konsumsi makanan olahan dan peningkatan akses terhadap makanan bergizi, yang bertujuan untuk menyehatkan populasi sekaligus menjaga keseimbangan ekologis planet.

Komisi EAT-LANCET menjabarkan “Isi Piringku” untuk planetary healthy diet, yakni setengah piring berisi kalori dari biji-bijian utuh, protein nabati, lemak tak jenuh, dan protein hewani rendah atau sedang; sedangkan setengahnya lagi berisi sayuran dan buah. Konsep ini sejalan dengan Piramida Makanan Indonesia dan Isi Piringku dari Pedoman Gizi Seimbang yang dicetuskan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Dengan keberagaman pangan lokal yang dimiliki, Indonesia berpotensi besar dalam mengadopsi pola makan seimbang dan berkelanjutan. Hal ini memerlukan dukungan kebijakan, transformasi sistem kesehatan dan pangan, serta perubahan perilaku. “Tentunya, kita membutuhkan program yang berkelanjutan untuk mendukung scaling-up ke level nasional demi terwujudnya generasi emas Indonesia. Ke depannya, berbagai riset yang dilakukan dapat menjadi dasar untuk penelitian terapan dan lanjutan, terutama dalam proses hilirisasi intervensi dan pengembangan inovatif,” ujar Prof. Rina.

Berkat penelitian berjudul berjudul “Feeding the Future: Peran Kualitas Diet, Mikrobiota Saluran Cerna, dan Pangan Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kecerdasan dan Kesehatan Ibu, Anak, dan Remaja Menuju Generasi Emas Indonesia” tersebut, Prof. Rina dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI). Prosesi pengukuhan tersebut dipimpin langsung oleh Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D.

Selain melakukan penelitian terkait permasalahan gizi dan pangan berkelanjutan, Prof. Rina juga meneliti beberapa topik lain. Beberapa di antaranya adalah Relationships of Child, Parents, and Environment-Associated Determinants with Diet Quality, Physical Activity, and Smoking Habits among Indonesian Urban Adolescents (2022); Nutrient Intakes of Pregnant and Lactating Women in Indonesia and Malaysia: Systematic Review and Meta-Analysis (2023); dan The Impact of Government Pandemic Policies on the Vulnerability of Healthcare Workers to SARS-CoV-2 Infection and Mortality in Jakarta Province, Indonesia (2024).

Prof. Rina menyelesaikan pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada pada 1997; Master Ilmu Gizi di FKUI bekerja sama dengan SEAMEO-TROPMED RCCN UI tahun 2000; serta program Doctor Human Nutrition, Wageningen University, Netherlands pada 2012. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Klaster Human Nutrition Research Center, IMERI, FKUI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *