
Pertemuan ini merupakan langkah krusial dalam mematangkan koordinasi latihan gabungan antar negara anggota ADMM-Plus. Latihan ini mengintegrasikan tiga kelompok kerja ahli (Experts’ Working Groups/EWG), yaitu Kedokteran Militer (Military Medicine), Bantuan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana (HADR), serta Keamanan Siber (Cyber Security) yang direncanakan akan dilaksanakan pada bulan September 2026 di Banten.
Dalam sambutannya, Marsma TNI dr. Mukti Arja menekankan bahwa Exercise Trident Resolve dirancang dengan skenario bencana kompleks berskala besar, mulai dari gempa bumi, erupsi Gunung Krakatau, hingga tsunami. Kondisi ini menuntut kesiapan bantuan internasional dan interoperabilitas yang tinggi antar Angkatan Bersenjata ASEAN dan delapan negara mitra wicara, Amerika Serikat, Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan, New Zealand dan Rusia.
“Latihan gabungan ini merupakan tonggak penting bagi kerja sama pertahanan ADMM-Plus. Kita menyatukan berbagai keahlian dalam satu kerangka kerja yang realistis untuk membangun kepercayaan (Confidence Building Measures) dan kapasitas teknis di lapangan,” ujar Dirkes Ditjen Kuathan Kemhan.
Selain simulasi koordinasi, Kelompok Kerja Ahli Kedokteran Militer (EWG on Military Medicine) yang diketuai bersama oleh Indonesia dan Amerika Serikat juga akan melaksanakan kegiatan bakti kesehatan, Project-based Community Medical Development (PCMD) dan Medical Aid Provision (MAP) yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di Provinsi Banten. Integrasi antara pemerintah daerah, TNI, dan mitra internasional dalam latihan ini diharapkan menjadi model penanggulangan bencana di masa depan.
Agenda MPC yang berlangsung pada 26-30 Januari 2026 ini mencakup berbagai rangkaian teknis, mulai dari Combined EWG Briefing, konferensi persiapan, lokakarya protokol komunikasi, hingga peninjauan lokasi (site survey) untuk memastikan seluruh aspek operasional siap dilaksanakan pada fase latihan puncak.
