Multinewsmagazine.com –
Berlangsung sejak 3 Januari hingga 14 Februari 2026, kompetisi ini diikuti oleh 602 peserta yang ditantang memecahkan studi kasus nyata dari perusahaan global. Tim PVP merupakan representasi kolaborasi lintas disiplin, beranggotakan Muhammad Salman Alghifari (Teknik Industri 2022), Lubna Qumilaila Al Kaysa (Teknik Industri 2023), dan Abdurrahman Bonahari Bahjuri (Teknik Metalurgi dan Material 2023).
Pada tahap preliminary hingga semifinal, peserta ditantang menyusun strategi penguatan brand mass haircare bersama Unilever. Tim PVP mengusung strategi bertajuk “The SILK Strategy: Rebuilding Sunsilk Consumer Conversion Through Innovation, Circularity, and Engagement in Indonesia’s Mass Haircare Market.”
Strategi ini berangkat dari analisis bahwa meskipun penetrasi pasar tinggi, brand menghadapi tantangan authority dilution (melemahnya posisi sebagai market leader) serta circularity gap dalam pengelolaan pascakonsumsi. Melalui tiga pilar utama — Smart & Sustainable Product Innovation, Impact-Proof Circularity, dan Lifestyle Activation via Key Moments — tim merumuskan solusi yang tidak hanya kuat secara strategis, tetapi juga terukur secara finansial dan lingkungan.
Dalam proyeksi implementasi, strategi tersebut menghasilkan estimasi NPV sebesar Rp885 miliar, IRR 11,45%, dan BEP 3,28 tahun, serta berpotensi mengurangi limbah hingga 2.661 ton (42,27%) dalam skenario penerapan penuh.
Pada babak final, EY (Ernst & Young) menghadirkan tantangan transformasi operasional dan digitalisasi perusahaan. Menjawab tantangan tersebut, tim PVP memperkenalkan “The ERP-Boost: From Fragmented Execution to Integrated Performance Through Digital Backbone, Operational Discipline, and People-Led Change.”
Solusi ini mencakup implementasi SAP S/4HANA, re-engineering proses end-to-end pada supply chain dan value chain, serta pendekatan people-centered change management melalui Serious Simulation Games. Dalam skenario implementasi komprehensif, solusi tersebut diproyeksikan menghasilkan IRR 35,96%, NPV Rp1,30 miliar, penurunan emisi hingga 5,8 juta tCO₂ (21,43%), pengurangan inventory sebesar 60%, serta peningkatan On-Time In-Full (OTIF) hingga 75%.
Kolaborasi lintas disiplin antara Teknik Industri dan Teknik Metalurgi dan Material menjadi kekuatan utama tim dalam merancang solusi yang komprehensif, mengintegrasikan aspek operasional, finansial, dan keberlanjutan lingkungan.
Muhammad Salman Alghifari, selaku ketua tim, menyebut pengalaman ini sebagai simulasi dunia nyata yang berharga. “Kami ditantang untuk menyusun permasalahan secara struktural dan merancang strategi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga layak secara finansial serta dapat dieksekusi secara operasional,” ungkap Salman.
Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., turut memberikan apresiasinya atas capaian strategis berbasis data dan keberlanjutan yang dihadirkan para mahasiswa. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FTUI memiliki kapasitas analitis, kepemimpinan, dan kemampuan problem solving yang kompetitif di tingkat internasional,” tegas Prof. Kemas.
Keberhasilan ini semakin menegaskan komitmen FTUI dalam mendorong mahasiswa untuk unggul tidak hanya dalam ranah akademik dan riset, tetapi juga dalam kompetisi global yang menuntut ketajaman analisis, kreativitas strategi, serta kepemimpinan kolaboratif.
