
“Rendang untuk Sumatera” merupakan pertunjukan kolosal berbasis gastronomi atau food performative—sebuah format pertunjukan seni yang menjadikan proses memasak sebagai ekspresi identitas kultural sekaligus aksi sosial. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Marandang Institute bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta dan Makara Art Center UI.
Dalam kegiatan tersebut, proses memasak rendang yang berlangsung sekitar delapan jam menjadi inti pertunjukan. Aktivitas memasak dipadukan dengan berbagai ekspresi seni seperti tari, musik tradisi dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, action painting, pameran etno-fotografi, hingga pembacaan puisi yang merefleksikan kepedulian terhadap dampak Bencana Sumatera pada November 2025.
Rendang yang dihasilkan dari kegiatan ini akan dikemas sebagai makanan tahan lama untuk didistribusikan kepada para penyintas bencana yang menjalankan ibadah puasa di tenda-tenda pengungsian yang tersebar di sekitar 230 titik di tiga provinsi terdampak.
Kegiatan ini dipimpin oleh Chef Aidil Usman dan melibatkan ratusan helper tungku dari unsur mahasiswa serta sivitas akademika UI. Selain kedua menteri, kegiatan juga dihadiri sejumlah seniman dan tokoh budaya seperti Trie Utami, Inayah Wahid, Dik Doank, Santhi Serad, Michael Abel Firdausi, serta budayawan Ngatawi Al-Zastrouw.
Sebelumnya, semangat Ramadan di UI telah diawali dengan kegiatan Majelis Nyala Purnama #10 bertajuk “Tadarus Cinta: Cinta Kasih terhadap Semua” yang diselenggarakan pada Jumat malam, 27 Februari 2026 di Makara Art Center UI. Acara ini merupakan kolaborasi Direktorat Kebudayaan UI, Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia.
Direktur Kebudayaan UI, Dr. Ngatawi Al Zastrouw, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali nilai kasih sayang sebagai fondasi kehidupan bersama.
“Cinta adalah hak semua manusia. Karena itu, setiap upaya membunuh dan mengabaikan cinta harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Melalui Majelis Nyala Purnama, kita ingin berbagi cinta untuk semua, menebar cinta yang menyehatkan jiwa dan raga serta membahagiakan lahir dan batin,” ujarnya.
Ketua Komoenitas Makara, Fitra Manan, menambahkan bahwa tadarus cinta merupakan dialektika hati yang mengajak setiap orang tidak hanya membaca makna kasih sayang, tetapi juga menghidupkannya dalam relasi sosial yang inklusif.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dan seniman, di antaranya Dr. Turita Indah Setyani, Drs. Raymond Michael Menot, Dwi Woro Retno Mastuti, serta Rocky Gerung. Kegiatan ditutup dengan sesi meditasi yang dipimpin oleh Dr. Turita Indah Setyani, mengajak peserta menadaburi dan menghidupkan nilai cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan ini sekaligus menandai dimulainya Syiar Ramadan Kampus UI yang akan berlangsung hingga 14 Maret 2026. Melalui perpaduan refleksi spiritual, ekspresi budaya, dan aksi kemanusiaan, UI menghadirkan Ramadan sebagai ruang perjumpaan nilai-nilai kemanusiaan yang inklusif dan penuh kepedulian terhadap sesama.
