GURU BESAR FIK UI SOROTI URGENSI PENANGANAN PENYAKIT INFEKSI SEBAGAI PENYEBAB KEMATIAN TERTINGGI PADA ANAK

GURU BESAR FIK UI SOROTI URGENSI PENANGANAN PENYAKIT INFEKSI SEBAGAI PENYEBAB KEMATIAN TERTINGGI PADA ANAK

Multinewsmagazine.com –  Di tengah tantangan kesehatan nasional dan global yang kian kompleks, Universitas Indonesia (UI) kembali menorehkan sejarah akademik dengan mengukuhkan salah seorang pakar terbaiknya, Prof. Dessie Wanda, S.Kp., M.N., Ph.D., sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Penyakit Infeksi pada Anak di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI. Pada acara pengukuhan yang berlangsung di Balai Sidang UI pada Rabu (1/4), Prof. Dessie menyampaikan pidato berjudul “Penyakit Infeksi pada Anak dari Perspektif Leininger: Pertimbangan Keperawatan ‘dari Hulu ke Hilir’”.

Dalam pemaparannya, Prof. Dessie menyoroti urgensi penanganan penyakit infeksi yang masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak, baik di Indonesia maupun dunia. Merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2020–2024, terjadi peningkatan tren kasus pneumonia, diare, tuberkulosis, dan HIV pada anak-anak Indonesia. Bahkan, kasus pneumonia meningkat tajam hampir dua kali lipat pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sistem imun anak masih dalam proses maturasi, menjadikannya kelompok yang sangat rentan,” ungkap Prof. Dessie.

Lebih jauh, Prof. Dessie menekankan bahwa faktor eksternal seperti perubahan iklim, karakteristik sosiokultural, perilaku manusia, serta penurunan cakupan imunisasi akibat pandemi COVID-19 turut memperburuk situasi ini. Hal yang menjadi sorotan adalah keberanian Prof. Dessie mengintegrasikan ilmu keperawatan modern dengan Culture Care Theory dari Madeleine Leininger, seorang tokoh keperawatan legendaris dari Amerika Serikat. Baginya, pengobatan anak tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya keluarga.

“Tindakan keperawatan tidak selalu harus mengubah total budaya pasien. Terkadang kita harus melakukan akomodasi atau negosiasi agar pengasuhan tetap berjalan tanpa melanggar prinsip budaya yang dianut keluarga,” jelasnya.

Dalam pidato tersebut, Prof. Dessie menyinggung sejumlah kasus nyata di Indonesia yang menunjukkan pentingnya pendekatan budaya dalam praktik keperawatan. Salah satu contohnya adalah masyarakat Badui Dalam yang memiliki pantangan menggunakan teknologi modern, termasuk kendaraan dan tindakan medis tertentu.

Dalam kasus yang Prof. Dessie sajikan, seorang anak Badui Dalam mengalami patah tulang, tapi keluarganya lebih memilih pengobatan tradisional melalui tukang urut patah tulang. Namun, setelah kondisinya memburuk, akhirnya dilakukan negosiasi (culture care negotiation) dengan pemangku adat agar sang anak tetap mendapat perawatan medis di klinik yang dekat dengan komunitas, tanpa melanggar aturan adat.

Kasus lain yang turut dipaparkan adalah tradisi Sei di Nusa Tenggara Timur, yaitu pengasapan ibu dan bayi baru lahir selama berhari-hari. Tradisi ini diyakini memberi perlindungan, namun juga berisiko terhadap kesehatan ibu dan bayi, terutama risiko infeksi saluran pernapasan. Dalam konteks ini, perawat dituntut untuk melakukan pendekatan yang menghormati budaya, sekaligus mengedukasi keluarga agar praktik tersebut tidak membahayakan kesehatan anak.

Lahir di Bengkalis pada tahun 1973, perjalanan akademik Prof. Dessie membentang hingga ke Australia, tempat ia meraih gelar Master dan Doktor. Kontribusinya di tingkat nasional dan internasional juga tidak main-main: puluhan artikel di jurnal bereputasi, produk Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) berupa aplikasi deteksi dini malnutrisi, hingga buku edukasi kesehatan anak. Prof. Dessie juga sempat menjabat sebagai Wakil Dekan I FIK UI periode 2021–2025.

Pengukuhan dirinya sebagai guru besar bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan tonggak baru bagi Prof. Dessie untuk terus mengabdi. Ia menutup pidatonya dengan harapan agar ilmu yang ia dalami dapat memberikan manfaat nyata, memastikan anak-anak Indonesia terhindar dari penyakit infeksi dan dapat tumbuh sehat di tengah keberagaman budaya yang ada. Pengukuhan ini sendiri menjadikan Prof. Dessie sebagai Guru Besar Tetap FIK UI ke-13, sekaligus menambah jumlah Guru Besar Tetap UI menjadi total 475 orang.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *