
“Kota Depok hari ini sedang menghadapi persoalan yang tidak bisa lagi dianggap biasa, kemacetan yang semakin menjadi-jadi dan sistem transportasi yang belum tertata secara menyeluruh.Setiap pagi dan sore, ribuan warga Depok menghabiskan waktu berjam-jam di jalan,” ucap Haji Bambang Sutopo (HBS), Selasa (14/4/2026).
Lanjut HBS,”“Bukan karena jarak yang jauh, tetapi karena sistem transportasi kita belum mampu menjawab kebutuhan mobilitas kota yang terus tumbuh. Jalan Margonda, Sawangan, Juanda, semuanya menjadi saksi bahwa kota ini masih menghadapi masalah kemacetan setiap harinya.”
“Pansus Perda Perhubungan hari ini (13/4/2026) belajar dan mendengar langsung paparan dari Dinas Perhubungan Jakarta. Melihat dari paparan tersebut kami menyoroti, bahwa pendekatan yang diambil selama ini cenderung masih bersifat tambal sulam, pelebaran jalan, rekayasa lalu lintas, atau penanganan titik kemacetan,” terang HBS.
“Namun fakta lain menunjukkan, bahwa setiap jalan yang diperlebar justru kembali macet dalam waktu singkat. Masalah utama di Depok bukan kekurangan jalan, tetapi ketiadaan sistem transportasi yang terintegrasi,” jelas HBS.
“Kita belum memiliki arah besar. Kita belum memiliki “grand design”. Dan yang lebih krusial, kita belum memiliki keberanian kebijakan. Jadi masalahnya bukan dijalan tapi di kebijakan dan prioritas anggaran utk menangani masalah kemacetan, dan lain-lain. Belajar dari Jakarta, Kemacetan tidak diselesaikan dengan cara lama. Jakarta, dengan segala kompleksitasnya, sudah mulai bergerak keluar dari jebakan kemacetan melalui dua pendekatan:
1. Mengendalikan kendaraan pribadi (push strategy)
2. Memperkuat transportasi publik (pull strategy)
Artinya, pemerintah tidak hanya menyediakan alternatif, tetapi juga perlu mengatur perilaku masyarakat secara sistemik,” papar HBS.
“Pengalaman DKI Jakarta memberikan pelajaran penting bahwa penanganan transportasi harus dilakukan melalui:
1. Push Strategy (Pengendalian Kendaraan Pribadi)
Kebijakan parkir progresif, Pembatasan kendaraan,
Manajemen lalu lintas berbasis teknologi.
👉 Intinya: mengendalikan permintaan (demand)
2. Pull Strategy (Penguatan Transportasi Publik)
Angkutan umum massal, Integrasi moda dan tarif,
Pengembangan kawasan berbasis TOD.
👉 Intinya: menyediakan alternatif yang lebih baik,” tutup HBS.
