Multinewsmagazine.com -Universitas I
Prof. Zulys menyoroti fenomena “usefulness of useless” yang melekat pada MOF sejak awal kemunculannya. Material ini sempat dianggap tidak berguna karena belum mampu menyaingi zeolit dalam absorpsi maupun katalis dalam kestabilan termal. Namun, penelitian panjang membuktikan bahwa MOF mampu menjadi material dengan beragam manfaat, seperti sebagai katalis untuk produk kimia, fotokatalis untuk menghilangkan logam berat dalam pencemaran air, hingga dapat menurunkan kadar karbon dengan pemisahan dan penyerapan selektif.
MOF, dengan luas permukaan sekitar 7000 – 8000 m²/g, memungkinkannya menjadi penyimpanan gas efisien. Struktur yang teratur dan fleksibel turut menjadikannya sebagai salah satu material paling unggul untuk teknologi masa depan di bidang energi, lingkungan, dan kesehatan.
Dalam konteks energi terbarukan, ia menekankan potensi MOF dalam proses water splitting atau pemecahan air untuk menghasilkan hidrogen sebagai bahan bakar bersih. Hidrogen dinilai sebagai energi masa depan karena hasil reaksinya dengan oksigen hanya menghasilkan air tanpa emisi karbon. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah efisiensi proses serta penyimpanan hidrogen, yang membutuhkan material super adsorben seperti MOF. “Jika hidrogen adalah energi masa depan, maka katalis adalah jantungnya, dan rekayasa material adalah kuncinya,” tegasnya.
Prof. Zulys juga menekankan perlunya instrumen karakterisasi yang mumpuni untuk memastikan kualitas MOF, seperti FTIR (Fourier Transformation Infrared), X-RD (X-Ray Diffractometer), X-PS (X-Ray Photoelectron Spectroscopy), SEM-EDX, TGA (Thermal Gravimetric Analysis), dan X-Ray Crystallography. Ia mengungkapkan bahwa tim risetnya telah berhasil menyintesis dua struktur BIO-MOF, sebuah capaian yang membuka jalan bagi aplikasi lebih luas di bidang energi, kesehatan, dan lingkungan.
“Bayangkan, kita tidak lagi hanya menemukan material di alam, tetapi menciptakan struktur baru dengan fungsi yang kita inginkan,” ujar Prof. Zulys.
Kolaborasi lintas institusi disebutnya sebagai kunci untuk mempercepat pengembangan material ini, mulai dari katalisis, transformasi organik, carbon capture, drug delivery, hingga fotokatalisis untuk dyes degradation.
Mengakhiri pidato pengukuhannya, Prof. Zulys menegaskan bahwa masa depan energi dunia tidak hanya ditentukan oleh sumber energi, tetapi oleh kemampuan manusia merekayasa sistem yang mampu mengonversi, menyimpan, dan memanfaatkan energi secara efisien. “Sains mengajarkan kita bahwa solusi besar sering lahir dari rekayasa yang paling mendasar, mulai dari struktur atom yang tak kasat mata, hingga energi masa depan umat manusia,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Prof. Agustino Zulys lahir di Jakarta pada 17 Agustus 1974. Ia menempuh pendidikan S1 Kimia di Universitas Indonesia (1992–1997), lalu melanjutkan studi S2 dan S3 di Freie Universität Berlin, Jerman, dengan fokus pada kimia anorganik. Setelah itu, ia menjalani studi postdoctoral di Montana State University, Amerika Serikat, serta di Karlsruher Institut für Technologie (KIT), Jerman.
Perjalanan akademiknya yang panjang dan lintas negara memperkuat kiprahnya sebagai salah satu ilmuwan kimia Indonesia yang kini berkontribusi besar dalam riset material maju untuk energi hijau. Secara khusus, dikukuhkannya Prof. Zulys sebagai Guru Besar Tetap kian meneguhkan posisi UI sebagai institusi pendidikan tinggi nasional dengan akademisi unggul dan inovatif.
