
Dalam sambutannya, Prof. Hamdi mengapresiasi terselenggaranya seminar yang melibatkan pakar-pakar terkemuka ini dan menegaskan komitmen UI menghadirkan solusi nyata melalui sinergi ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.
“Semoga penyelenggaraan seminar hasil kolaborasi strategis UI dengan Kemenko PM ini benar-benar bisa menjawab tantangan bangsa Indonesia untuk lepas dari belenggu middle-income trap sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat menuju visi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Sementara itu, Sugeng Bahagijo, Staf Ahli Menko PM Bidang Pembangunan Ekonomi dan Digitalisasi, membacakan arahan dan sambutan mewakili Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu, Prof. Dr. rer. Nat. Abdul Haris. Ia menekankan urgensi pemberdayaan masyarakat sebagai kunci keluar dari jebakan pendapatan menengah. Ia menyoroti paradoks pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada triwulan I 2026, namun jutaan warga di daerah 3T masih belum merasakan dampak nyata pembangunan.
“Indonesia sudah masuk kategori upper-middle income country, tetapi masih dekat batas bawah. Transformasi struktural yang holistik, termasuk digitalisasi inklusif hingga pelosok hingga penguatan kapasitas inovasi dan teknologi, menjadi kunci keluar dari middle-income trap. Pemberdayaan masyarakat harus menjadi agenda utama agar visi Indonesia Emas 2045 dapat terwujud,” tegasnya.
Sesi inti seminar nasional ini menghadirkan paparan dari Prof. Elwin Tobing, Ph.D. (Azusa Pacific University, California) dan Kiki Verico, Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura dan Administrasi Umum FEB UI), dengan dipandu oleh moderator Ebi Junaidi, PhD. Prof. Elwin membawakan materi Escaping the Middle-Income Trap: Capability, Innovation, and Indonesia’s Future. Ia menekankan bahwa jebakan pendapatan menengah pada dasarnya adalah capability trap. Capability/kapabilitas, ia artikan sebagai kapasitas ekonomi untuk memformulasikan ilmu pengetahuan dan mengejawantahkannya menjadi produktivitas dan inovasi.
“Indonesia belum berhasil mengidentifikasi masalah fundamental dan masih stagnan dalam investasi kemampuan (capability investment). Untuk keluar dari jebakan ini, Indonesia perlu berinvestasi sekitar 3 persen dari GDP pada pendidikan tinggi dan riset berkualitas. Higher-quality tertiary education adalah motor utama untuk menjadi inovator,” jelasnya.
Prof. Elwin juga membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan dan Tiongkok yang sama-sama berangkat dari situasi historis yang serupa. Namun dibanding Indonesia, Korea Selatan dan Tiongkok lebih dulu berhasil melampaui innovation threshold dengan cara berinvestasi besar pada sektor pendidikan tinggi dan riset. Ia menegaskan bahwa tanpa percepatan investasi, Indonesia berisiko tetap berada dalam rezim imitasi hingga 2045, yang itu artinya gagal mewujudkan visi “Indonesia Emas 2045”.
Sementara itu, Kiki Verico menyoroti tantangan struktural ekonomi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa untuk mencapai target pendapatan per kapita negara maju pada 2045, Indonesia membutuhkan pertumbuhan rata-rata 7 persen per tahun, atau 1,5 kali lebih tinggi dari capaian dua dekade terakhir.
“Kuncinya adalah transformasi ekonomi riil, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta memperluas kemitraan produksi dengan negara-negara di kawasan ASEAN seperti Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Tanpa reformasi struktural yang menciptakan pekerjaan formal dan meningkatkan produktivitas, Indonesia akan sulit keluar dari middle-income trap,” ungkapnya.
Moderator Ebi Junaidi menutup sesi dengan refleksi kritis atas kondisi sosial-ekonomi Indonesia. “Realitas kita masih berat, setiap bayi lahir menanggung utang negara sekitar Rp30 juta, 2 dari 10 anak mengalami tengkes (stunting), dan 22 persen anak muda masuk kategori NEET (not in education, employment, or training). Jika ekosistem pemberdayaan masyarakat yang terpadu dan berkelanjutan gagal dibangun, target Indonesia Emas 2045 bisa meleset. Ini saatnya bertindak, now or never,” pungkasnya.
Acara ini turut dihadiri perwakilan Kemenko PM, akademisi lintas universitas, serta tokoh masyarakat yang berkomitmen mendukung agenda pemberdayaan masyarakat dan transformasi ekonomi Indonesia. Dari delegasi UI sendiri hadir Prof. Dr. Dra. Retno Kusumastuti Hardjono, M.Si (Dekan Fakultas Ilmu Administrasi UI), Prof Debora Eflina Purba, S.S., M.Si., Ph.D (Direktur Pendanaan dan Ekosistem Riset), Dr. Eng., Ir. Muhammad Arif Budiyanto, S.T., M.T., IPM (Direktur SDM dan Pengembangan Talenta), Dr. Ngatawi Al-Zastrow, S.Ag., M.Si. (Direktur Kebudayaan), dan Dr. L.G. Saraswati Putri, S.S., M.Hum. (Direktur Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial).
Melalui seminar ini, UI menegaskan perannya sebagai katalis akademik yang menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kebutuhan masyarakat. Dengan menghadirkan pakar internasional dan nasional serta berkolaborasi dengan Kemenko PM, UI memperkuat kontribusinya dalam membangun ekosistem riset, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Langkah ini menempatkan UI sebagai mitra strategis dalam perjalanan menuju visi “Indonesia Emas 2045” sebagai negara maju, berdaulat, dan inklusif.
