
Agenda yang diikuti oleh jajaran Guru Besar lintas fakultas, mahasiswa, orang tua mahasiswa, dan tenaga kependidikan kampus ini juga menjadi sarana penting bagi UI dalam menjaga marwah akademik dan kepercayaan publik sebagai perguruan tinggi negeri terbaik di tanah air dalam menyongsong tantangan globalisasi dan digitalisasi seperti disrupsi yang dihadirkan oleh akal imitasi atau AI.
Dalam sambutannya, Prof. Eko menegaskan peran krusial aspek budaya bagi kemajuan bangsa, selain aspek sumber daya alam, sumber daya manusia, serta sistem dan tata kelola pemerintahan. Ia juga menyoroti bahwa kondisi negara sangat ditentukan oleh sikap dan karakter yang ditampilkan masyarakatnya, dan UI memiliki tanggung jawab krusial dalam membangun masyarakat Indonesia.
“Aspek budaya adalah katalis penting bagi kemajuan bangsa, seperti yang dicontohkan oleh banyak negara maju. Dari budaya maka lahirlah karakter, integritas, dan etika bangsa. Dari kampus UI ini kita bertekad mengokohkan integritas sembari mempersiapkan diri menghadapi segala tantangan zaman. Globalisasi, digitalisasi, serta perubahan generasi harus mampu dijawab dengan penguatan budaya integritas,” paparnya.
Lebih lanjut, Guru Besar dengan kepakaran di bidang kebijakan publik tersebut juga berharap forum Townhall Meeting yang diselenggarakan dapat terus berlanjut sebagai wadah bagi jajaran DGB UI untuk terus memberi dampak nyata dengan menjaga, memperkuat, dan membentuk integritas serta etika institusi UI dan bangsa.
Sementara itu, koordinator acara sekaligus Ketua Komite Pembinaaan Kehidupan Akademik dan integritas Moral Dewan Guru Besar Universitas Indonesia DGB UI, Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari, M.M., M.Sc., menekankan bahwa tujuan utama forum ini adalah mengembalikan kepercayaan publik dan menjaga marwah akademik UI di tengah berbagai tantangan integritas. Ia menyoroti fenomena kekerasan seksual, perjokian, plagiarisme, hingga pemalsuan dokumen sebagai gejala melemahnya budaya akademik. “Jika semua hal hilang, yang tersisa dari seorang lulusan UI adalah karakter. Integritas kokoh adalah syarat utama agar kita layak dipercaya,” tegasnya.
Sebagai sesi utama acara, forum ini menghadirkan sejumlah Guru Besar UI yang menjadi narasumber dengan mengupas “9 Nilai Dasar UI” dari lintas perspektif. Prof. Tjan Basaruddin dari FASILKOM, misalnya, menekankan kejujuran sebagai nilai dasar dan fundamental yang jadi pemantik kehadiran nilai lainnya, serta pentingnya faktor keteladanan dari dan bagi sivitas akademika dalam implementasi nilai-nilai dasar UI. Prof. Theddeus “Teddy” Prasetyono dari FK melanjutkan dengan menguraikan nilai kejujuran, keadilan, dan keterpercayaan, dengan mengingatkan bahwa kejujuran sangat diuji ketika berbuat curang memberi keuntungan tanpa adanya konsekuensi. Prof. Bambang Supriyatno yang juga dari FK menekankan nilai kemartabatan, tanggung jawab, dan kebersamaan sebagai fondasi integritas, sementara Prof. Haula Rosdiana dari FIA menyoroti keterbukaan, kebebasan akademik, dan kepatuhan aturan dengan penekanan pada prinsip “adab di atas ilmu” (al-adab fauqal ilmi).
Dalam sesi pemaparan lanjutan, sejumlah Guru Besar yang hadir turut memaparkan perihal tantangan dan pelanggaran akademik yang dihadapi UI dewasa ini seperti perjokian, plagiarisme, hingga kekerasan. Prof. Wellyzar Sjamsuridzal dari FMIPA mengingatkan bahaya perjokian mencoreng reputasi akademik dan merusak esensi pembelajaran, sedangkan Prof. Sutanto Priyo Hastono dari FKM menguraikan lima bentuk plagiarisme dan menegaskan integritas akademik sebagai fondasi universitas. Prof. Bambang Shergi Laksmono dari FISIP melanjutkan dengan membahas “relasi hormat” yang seharusnya ditegakkan untuk menjaga batasan antara sivitas, yang diharapkan mencegah terjadinya pelanggaran wewenang dan ketimpangan kuasa.
Sesi pemaparan tantangan dan pelanggaran akademik ini dilanjut oleh Prof. Heru Susetyo dari FH yang menguraikan etika bermedia sosial, menekankan prinsip kesamaan etika offline dan online serta pentingnya empati dan anti-bullying. Prof. Bagus Takwin dari FPsi mengakhiri sesi ini dengan menekankan pentingnya menghadirkan budaya yang adil dan jujur secara kontinu di lingkungan kampus dalam mewujudkan sivitas akademika yang berintegritas.
Dari rangkaian pemaparan dan diskusi, forum merumuskan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain membangun ekologi moral kampus berbasis “9 Nilai Dasar UI”, menggeser pendekatan dari kepatuhan aturan ke pemahaman prinsip nilai dan etika; mengintegrasikan pendidikan nilai dalam kurikulum dan aktivitas kampus; memperkuat keteladanan dosen dan pimpinan; membangun sistem pencegahan dini terhadap plagiarisme, perjokian, pemalsuan dokumen, kekerasan, dan pelanggaran etika digital; menyusun pedoman praktis penggunaan AI dan etika bermedia sosial; serta mengadakan forum refleksi lintas fakultas secara berkala.
Melalui pelaksanaan Townhall Meeting yang bertepatan dengan momentum Hari Lahir Pancasila, UI menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi negeri unggul dan berdampak nyata yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga berperan aktif membentuk karakter bangsa yang berintegritas. Dengan meneguhkan “9 Nilai Dasar UI”, memperkuat budaya akademik, serta menghadirkan keteladanan sivitas, UI menempatkan diri sebagai universitas yang konsisten menjaga marwah akademik sekaligus berkontribusi nyata dalam menjawab tantangan globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial di Indonesia.
