Site icon MultiNewsMagazine.com

RESPONS KRISIS GLOBAL, UNIVERSITAS INDONESIA DORONG SINERGI PENGAYOMAN JIWA MANUSIA DAN PEMELIHARAAN BUMI

RESPONS KRISIS GLOBAL, UNIVERSITAS INDONESIA DORONG SINERGI PENGAYOMAN JIWA MANUSIA DAN PEMELIHARAAN BUMI

Multinewsmagazine.com – Universitas Indonesia (UI) terus mempertegas komitmennya sebagai kampus terkemuka yang melahirkan akademisi terbaik sekaligus penyedia solusi atas berbagai tantangan dan krisis yang dihadapi peradaban manusia. Merefleksikan tantangan ekologis dan sosial kontemporer, UI memfasilitasi lahirnya gagasan lintas disiplin yang mempertemukan ranah ilmu psikologi, kebijakan lingkungan hidup nasional, dan arah strategis akademik.

Gagasan besar ini diselisik dalam Perayaan Dies Natalis ke-66 Fakultas Psikologi (FPsi UI) yang dihelat di Auditorium Gedung H FPsi UI, pada Rabu (1/7). Agenda strategis yang diikuti oleh keluarga besar sivitas akademika dan alumni FPsi UI, jajaran dekan dan wakil dekan, serta para pimpinan lembaga di lingkungan Pusat Administrasi UI ini menghadirkan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat, M.Si.. Ia menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Dari Krisis ke Kesadaran: Menyembuhkan Jiwa Manusia dan Bumi secara Bersamaan”, yang senada dengan tema besar Dies FPsi UI tahun ini, yakni “Menyehatkan Jiwa, Merawat Bumi”.

Dalam orasinya, Menteri Jumhur memaparkan bahwa perubahan iklim pada dasarnya bersumber dari perilaku manusia, di mana krisis saat ini merupakan akumulasi dari minimnya kepedulian kita dalam pelestarian lingkungan. Ia menekankan adanya dimensi psikologis manusia yang selama ini luput dalam bahasan mitigasi krisis iklim global. Oleh sebab itu, Kementerian LH meyakini regulasi dan teknologi saja tidak akan cukup tanpa adanya pembenahan dari aspek perilaku masyarakat (behavioral science).

“Kita membutuhkan tiga fondasi psikologis yang kokoh, yaitu literasi iklim untuk memahami konsekuensi sikap kita terhadap alam; ketahanan psikologis (psychological resilience) agar tetap adaptif terhadap perubahan iklim; serta rasa kepemilikan psikologis (psychological ownership) terhadap lingkungan yang harus dipikul bersama. Kita tidak ingin mewariskan kemajuan ekonomi yang ditopang oleh alam yang rusak dalam visi Indonesia Emas 2045,” papar Jumhur.

Jumhur, yang juga alumni magister Sosiologi UI tahun 2013, menambahkan, “Manusia yang membutuhkan bumi, maka merawat bumi adalah bak merawat diri kita sendiri dan peradaban manusia seluruhnya.” Lebih lanjut, ia juga menyampaikan refleksi penting bahwa pada abad ke-21 ini, kecerdasan manusia tidak lagi hanya diukur secara kognitif, melainkan juga dari kemampuan serta kecerdasan dalam menjaga bumi (environmental intelligence).

Sementara itu, Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU menegaskan dukungan penuhnya terhadap arah gerakan akademik ini. Beliau menyampaikan bahwa di tengah meningkatnya persoalan kesehatan mental, dunia juga dihadapkan pada perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang memengaruhi kualitas hidup manusia.

“Kesehatan jiwa dan kelestarian bumi merupakan dua hal yang berkelindan. Lingkungan yang sehat mendukung kesejahteraan manusia, sementara manusia yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial akan lebih mampu merawat lingkungannya. Di sinilah ilmu psikologi berperan penting dalam memahami perilaku manusia sekaligus mendorong perubahan menuju kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rektor UI mengapresiasi eksistensi FPsi UI yang selama 66 tahun terus melahirkan talenta yang berkontribusi bagi bangsa, selaras dengan visi unggul dan berdampak nyata (impactful) yang digaungkan UI. FPsi UI tidak hanya kokoh sebagai pionir pendidikan psikologi di tanah air, tetapi juga diakui di tingkat regional karena berhasil menangkap kegelisahan global dan menariknya ke dalam dimensi psikologis.

Sejalan dengan hal tersebut, Dekan FPsi UI, Dicky Chresthover Pelupessy, S.Psi., M.D.S., Ph.D., menegaskan komitmen fakultas agar kepedulian akan bumi ini menjadi prinsip dasar yang dipegang oleh para akademisi dan diimplementasikan secara nyata, dan bukan sekadar slogan perayaan.

“Pikiran dan perasaan manusia tidak pernah hidup dalam ruang yang kosong, karena ia senantiasa dibentuk oleh udara dan ruang hijau yang ada. Munculnya istilah seperti eco-anxiety dan solastalgia membawa pesan kuat bahwa merawat bumi adalah bagian utuh dari merawat jiwa kita. Pada momentum Dies Natalis ke-66 ini, mari kita jadikan tema ‘Menyehatkan Jiwa, Merawat Bumi’ bukan sekadar slogan perayaan, melainkan komitmen akademis yang secara kontinu diimplementasikan di lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, ketika kita merawat bumi, kita sedang merawat diri sendiri dan generasi yang akan datang,” ungkapnya.

Sebagai bentuk nyata dari nilai psikologi yang berpihak pada kemanusiaan, perayaan ini juga diisi dengan pemberian penghargaan khusus atas dedikasi luar biasa Prof. Dr. Saparinah Sadli. Beliau dikenal sebagai “Ibu Psikologi untuk Kemanusiaan” yang menjadi pionir dalam membela hak-hak perempuan, kelompok berkekurangan, serta mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk bersuara. Acara kemudian ditutup dengan sesi gelar wicara interaktif bersama dua alumni muda inspiratif FPsi UI, yakni aktris Rachel Amanda Aurora dan pendiri Kebun Kumara, Siti Soraya Cassandra, yang dipandu oleh akademisi FPsi UI, Whinda Yustisia, M.Psi., Ph.D.

Melalui penyelenggaraan agenda ini, UI memperkuat posisi strategisnya sebagai kampus unggul di tanah air yang senantiasa tanggap dan siap sedia merespons krisis global. Sebagai institusi yang konsisten mewadahi riset-riset mutakhir di bidang kesehatan jiwa dan lingkungan yang berkelanjutan, UI berkomitmen melahirkan tidak sekadar wacana teoritis di ruang kelas, melainkan solusi-solusi akademik lintas disiplin yang implementatif, adaptif, serta berdampak nyata lagi luas demi kemaslahatan masyarakat dan kelestarian dunia.

 

 

 

 

Exit mobile version