
Dalam kajiannya, Adhitya membuktikan bahwa media populer, seperti film garapan Hollywood dan gim video militeristik, bekerja secara efektif sebagai instrumen propaganda. Strategi pembingkaian (framing) ini sengaja dibangun demi menciptakan keterkaitan naratif yang kuat antara Serangan 9/11, sosok Osama bin Laden, Saddam Hussein, urgensi invasi ke Irak, hingga isu krusial mengenai kepemilikan senjata pemusnah massal. Pemerintah AS memanfaatkan trauma kolektif tersebut untuk memobilisasi dukungan publik domestik maupun global terhadap intervensi militer mereka di Afghanistan dan Irak.
Penelitian ini juga membedah lahirnya sebuah fenomena bernama militainment. Fenomena ini adalah perpaduan erat antara industri hiburan (entertainment) dan kekuatan militerisme. Melalui pendekatan pisau analisis teknik propaganda Randal Marlin, teori representasi Stuart Hall, serta memori kolektif Maurice Halbwachs, riset ini membuktikan bagaimana industri hiburan digunakan untuk menggalang sentiment patriotik warga sekaligus melegitimasi agresi militer. Efeknya, fenomena ini secara masif mendikte arus persepsi publik dunia yang berimbas terhadap citra umat Muslim dan dunia Arab di era modern.
Kehadiran penelitian ini memiliki arti penting dan manfaat langsung bagi masyarakat luas, khususnya dalam meningkatkan literasi media di era banjir informasi. Hasil riset ini mengedukasi publik agar lebih kritis dan tidak mentah-mentah menyerap narasi yang disajikan oleh produk budaya populer maupun media global. Dengan memahami bahwa hiburan seperti film dan gim dapat ditumpangi oleh agenda geopolitik tertentu, masyarakat diajak untuk membongkar bias, mengenali bentuk-bentuk propaganda terselubung, serta menghindari stigma atau stereotipe destruktif terhadap kelompok tertentu dalam dinamika global.
Keberhasilan pembongkaran rekonstruksi historis mengenai bagaimana agenda politik luar negeri AS diorkestrasi secara sistematis melalui media hiburan ini dipaparkan secara komprehensif dalam sidang promosi doktor di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB UI) pada Kamis (9/7). Bertempat di Auditorium Tjan Tjoe Som, Gedung Hoesein Djajadiningrat FIB UI, Adhitya berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Strategi Pemerintah Amerika Serikat dalam Pembingkaian Agenda Perang Melawan Teror Pasca-Serangan 9/11 (2001-2010)” dan meraih gelar Doktor dengan predikat “Sangat Memuaskan”.
Melalui capaian ini, Dr. Adhitya M. Maheswara resmi tercatat sebagai lulusan S3 ke-497 dari FIB UI, sekaligus menjadi lulusan ke-7 dari Program Studi Ilmu Sejarah FIB UI pada tahun 2026. Penyusunan disertasi komprehensif ini berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Zeffry, S.S., M.Si. selaku Promotor dan Agus Setiawan, S.S., M.Si., Ph.D. selaku Kopromotor.
Dalam sidang yang digelar, Prof. Dr. Agus Aris Munandar, S.S., M.Hum., memimpin sebagai Ketua Sidang. Bertindak sebagai Ketua Tim Penguji adalah Dr. Abdurakhman, S.S., M.Hum., dengan anggota tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. R. Tuty Nur Mutia, S.S., M.Hum., Dr. Yuda Benharry Tangkilisan, S.S., M.Hum., Dr. Dwi Mulyatari, S.S., M.A., dan Dr. Iwan Gunawan, S.Sn., M.Si.
Lahirnya riset berbobot yang menelaah sejarah politik-budaya kontemporer dunia ini mempertegas posisi UI sebagai perguruan tinggi yang konsisten mewadahi, mendukung, dan melahirkan penelitian-penelitian kritis berkualitas dunia. Melalui kebebasan mimbar akademik dan kedalaman riset interdisipliner, UI terus berkomitmen menghadirkan sumbangsih pemikiran yang tidak hanya memperkaya khazanah sejarah, namun juga memberikan pemahaman kritis bagi masyarakat global terhadap dinamika politik, budaya, dan media di era modern.
