
“Pemajuan kebudayaan membutuhkan kolaborasi berbagai bidang keilmuan, termasuk STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Teknologi dapat membuka banyak ruang untuk mengembangkan kebudayaan, mulai dari kecerdasan artifisial, teknologi digital, desain, arsitektur, hingga produksi seni dan budaya,” ujar Fadli Zon.
Pandangan tersebut relevan dengan penyelenggaraan Karya Raya FTUI 2026 yang mempertemukan engineering, innovation, dan culture. Melalui kegiatan ini, FTUI menghadirkan kebudayaan tidak hanya sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara karya, teknologi, inovasi, dan nilai-nilai budaya Indonesia.
Fadli Zon berharap Karya Raya dapat berkembang sebagai bagian dari ekosistem seni dan budaya Indonesia. Menurutnya, kegiatan seperti Karya Raya dapat membuka ruang kolaborasi antara dunia seni, budaya, teknologi, dan pendidikan.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Indonesia, Prof. Ir. Mahmud Sudibandriyo, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa di tengah transformasi digital dan perkembangan teknologi, nilai-nilai budaya menjadi fondasi agar inovasi tetap berorientasi pada kemanusiaan, keberlanjutan, dan kepentingan masyarakat.
“Universitas Indonesia meyakini bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang unggul dan inovasi yang berkualitas, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk merawat kebudayaan, memperkuat karakter bangsa, serta menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan yang mampu menjawab tantangan masa depan,” ujar Prof. Mahmud.
Sementara itu, Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa teknologi dan budaya tidak dapat dipandang sebagai dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Perkembangan teknologi perlu tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan kepentingan masyarakat.
“Teknologi lahir dari budaya, memengaruhi budaya, dan pada saat yang sama harus mampu memberi manfaat bagi manusia dan masyarakat. Inilah semangat yang ingin kami bangun melalui Karya Raya FTUI 2026,” jelas Prof. Kemas.
Menurutnya, semangat tersebut juga tercermin dalam pembentukan insan teknik yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi memiliki karakter, kreativitas, dan kepedulian terhadap budaya. “Bagi kami, menjadi insan teknik tidak cukup hanya dengan menguasai teknologi yang hebat. Kami juga ingin membangun manusia dan lingkungan akademik yang memiliki karakter, kreativitas, kepedulian terhadap budaya, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Pagelaran Budaya “Karya Raya FTUI 2026” merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis FTUI ke-62. Kegiatan ini menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk merayakan karya sekaligus memperkuat apresiasi terhadap keberagaman budaya Indonesia. Rangkaian Karya Raya menghadirkan berbagai kegiatan yang mempertemukan karya dan ekspresi sivitas akademika, antara lain pameran budaya, pameran inovasi dan industri, serta pertunjukan seni.
Salah satu pertunjukan yang dihadirkan dalam Karya Raya FTUI 2026 adalah pentas tari Papua oleh CEP CCIT, yang membawakan lagu Mambo Simbo, Dibaye Dibayo, dan Apuse. Penampilan tersebut menggambarkan kekayaan budaya dan semangat kebersamaan masyarakat Papua. Mambo Simbo menghadirkan keceriaan dan kekompakan, Dibaye Dibayo mencerminkan persatuan, gotong royong, dan rasa syukur, sedangkan Apuse membawa pesan tentang kasih sayang keluarga dan perpisahan.
Melalui rangkaian Karya Raya FTUI 2026, Universitas Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam memajukan kebudayaan Indonesia. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya UI untuk menjaga keberagaman budaya sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mengapresiasi, dan mengembangkannya di tengah perubahan zaman.
