Hantu Komunisme dan Komoditas Jualan Musiman

[ad_1]


MultiNewsMagazine.com – Mengapa Hantu Komunisme masih laku diperdagangkan di negeri ini, sementara di negeri asalnya komunisme sudah dijual sebagai souvenir buat para turis? Karena ada keuntungan politik yang menjadi tujuan perdagangan Hantu Komunisme ini. Kenapa dagang hantu kok laku? Saya kira, pedagang Hantu Komunisme di negeri ini memang cukup cerdas, dengan sedikit ilmu psikologi, dia kemas komunisme yang memang sudah tidak ada lagi barangnya itu sebagai hantu bukan yang lain, bukan barang yang kasat mata, seperti souvenir misalnya.

Membicarakan Hantu Komunisme kita sebenarnya memasuki sebuah wilayah yang bernama psikologi politik. Psikologi politik, secara sederhana bisa didefinisikan sebagai aplikasi ilmu psikologi dalam bidang politik. Hantu (demon) selalu punya konotasi sebagai mahluk yang menakutkan, jadi berbeda dengan bidadari (angel) yang selalu baik. Hantu adalah sebuah artefak yang dimiliki dalam semua kebudayaan. Setiap kebudayaan di dunia, juga di setiap daerah di Indonesia, memiliki hantunya masing-masing dengan namanya sendiri-sendiri.

Sebagai artefak dia diciptakan oleh manusia sendiri, dia adalah bagian dari evolusi mental manusia. Hantu memiliki fungsi dalam setiap kebudayaan. Dia ada untuk melayani sebuah kepentingan bersama dari kelompok yang mendukungnya. Dia menjadi sesuatu yang riil dalam benak manusia-manusia yang memerlukannya.

Sebagai sebuah fenomena psikologi, hantu itu ada jika anda membayangkan bahwa dia memang ada. Sekali lagi, dia ada di benak orang yang membayangkan bahwa dia ada. Apa yang ada di benak manusia menjadi obyek kajian ilmu psikologi. Adanya tujuan politik di balik perdagangan Hantu Komunisme menjadikan isu ini masuk dalam ranah psikologi politik. Menempatkan Hantu Komunisme dalam ranah psikologi politik, membawa kita untuk meneropong dua hal: (1) Motivasi yang mendorong mengapa Hantu Komunisme yang dipilih untuk dijadikan komoditas perdagangan, dan (2) Motivasi politik apa yang ada di balik perdagangan Hantu Komunisme ini.

Menilik polanya, para pedagang hantu ini bisa dibedakan, meskipun keduanya tidak terpisahkan, ke dalam dua kelompok.

Kelompok pertama, adalah orang-orang yang memang secara sadar menciptakan hantu itu untuk menakut-nakuti orang.

Sementara, kelompok kedua adalah orang-orang yang benar-benar ketakutan dengan hantu yang mereka ciptakan sendiri.

Kelompok yang kedua ini mungkin memang punya pengalaman pribadi yang menakutkannya. Saat ini, ketika pengalaman yang menakutkannya itu telah menjadi bagian dari ingatannya, akan membuatnya merasa takut jika membayangkan peristiwa, yang saat ini telah menjadi hantu di benak mereka. Jika hantu ini berhubungan dengan peristiwa yang terjadi seputar tahun 1965 maka usia orang-orang ini sekarang sekitar 65-an tahun atau lebih, dengan asumsi pada tahun 1965 usia mereka 10 tahun atau lebih. Bagi kelompok ini Hantu Komunisme bisa sangat kuat pengaruhnya karena rasa ketakutan (guilty feeling) akan kemungkinan balas dendam akibat perbuatan yang mereka lakukan dahulu.

Bagikan Jika Anda Suka

Seorang tentara yang menjaga tersangka Komunis di Tangerang, pinggiran Jakarta, 1 Desember 1965. Foto: Bettmann/Corbis

Sebagai jualan (komoditas) Hantu Komunisme diperdagangkan oleh dua kelompok orang yang berbeda, meskipun tujuannya sama yaitu untuk menciptakan sebuah iklim ketakutan (climate of fear) di masyarakat. Jika pedagang hantu yang kedua jumlahnya tidak banyak lagi karena sebentar lagi akan ditelan usia dan mati, kelompok pedagang pertama, yang sebagian besar dari mereka dilahirkan setelah tahun 1965 justru menjadi kelompok yang menarik untuk diperhatikan karena jumlah mereka lebih banyak dari kelompok yang kedua. Kelompok pertama ini menarik karena berbeda dengan kelompok kedua yang mengalami peristiwa 1965, justru sangat gencar dalam memperdagangkan hantu komunisme meskipun tidak pernah mengalami peristiwa 1965.

Sangat mungkin kelompok pedagang Hantu Komunisme yang pertama ini secara sosial-politik berasal dari lingkungan yang sama dengan kelompok pedagang hantu yang kedua. Kelompok kedua yang sebentar lagi punah karena tidak mungkin menyelamatkan diri dari hukum alam ini, adalah kelompok yang paling berkepentingan untuk mewariskan kekayaan dari hasil perdagangan hantu ini ke kelompok yang pertama.

Hantu Komunisme sebetulnya bisa ditemukan di banyak negara dengan bentuk dan proses reproduksinya masing-masing sesuai dengan konteks psikologi politik yang ada dalam sejarah bangsa dan negara itu. Komunisme, seperti halnya sosialisme dan kapitalisme merupakan ideologi yang bergerak pada tataran global dan pada tahun 1950-1960an menjadi bagian penting dari apa yang dikenal sebagai Perang Dingin (Cold War). Peristiwa 1965 bukanlah sekedar peristiwa lokal tetapi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Perang Dingin. Untuk bisa memahami Peristiwa 1965 akan keliru jika tidak menempatkannya dalam konteks geo-politik Perang Dingin. “Eksogenous Factors” jangan-jangan lebih kuat dari “Endogenous Factors” dalam peristiwa 1965.

Di lihat dari perspektif hari ini, perdagangan Hantu Komunisme, yang peristiwanya sendiri sudah lebih dari setengah abad yang lalu, mencerminkan, secara umum, akan masih kuatnya rasa tidak aman (insecurity feeling) dalam masyarakat. Rasa tidak aman ini adalah gejala psikologi politik yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor dan bisa dialami secara berbeda antara satu kelompok dengan kelompok yang lain dalam masyarakat kita. Pembeli Hantu Komunisme mungkin adalah kelompok tertentu dengan latar belakang tertentu, tapi yang perlu diperhatikan adalah imbasnya yang sangat berbahaya bagi masyarakat luas. Sebagai bagian dari pengalaman yang bersifat traumatis dari bangsa ini, peristiwa 1965 telah menjadi ingatan kolektif bersama (collective memory) bangsa ini. Peristiwa 1965 menjadi bagian dari “national psyche” bangsa ini.

Komunisme yang secara riil tidak ada lagi barangnya itu oleh para pedagang (ethnic enterpreuner) ini dan oleh karena itu hanya bisa direproduksi aspeknya yang tidak kasat mata, yaitu hantunya. Untuk apa, apa motivasi yang melatarbelakanginya? Indikasinya adalah adanya kepentingan politik di balik perdagangan Hantu Komunisme, tetapi kepentingan politik siapa dan untuk tujuan apa?

Sebagai hantu, Hantu Komunisme diciptakan dan direproduksi oleh para pedagangnya sebagai “a portable political device” yang multi fungsi. Selain untuk menciptakan ” a climate of fear”, dalam saat-saat tertentu dia bisa dipakai untuk menggoyang kestabilan politik rezim yang sedang berkuasa. Sebagai. “a portable political device” bisa efektif jika momentumnya pas, jika psikologi politik-nya mendukung.

Perdagangan Hantu Komunisme seperti virus corona (Covid-19) hanya bisa ditangkal jika masyarakat memiliki daya imunitas yang kuat, dan ini hanya mungkin jika masyarakat banyak merasa aman. Seperti Covid-19, Hantu Komunisme harus dilawan karena dia bisa melumpuhkan sendi-sendi kehidupan bersama kita dalam berbangsa dan bernegara. Para pedagang Hantu Komunisme dari kelompok kedua pasti akan habis dalam waktu paling lama sepuluh tahun ke depan, tetapi mutasinya pada kelompok pertama yang harus mendapatkan perhatian.

Kalau diperhatikan dengan sedikit serius, para pedagang Hantu Komunisme ini jangan-jangan hanya merupakan pedagang perantara, semacam agen pemasaran dari produk sebuah perusahaan besar. Jadi, sebagai kesimpulan sementara, kita musti mulai meneliti siapa di belakang para pedagang perantara ini. Siapa yang sesungguhnya mempekerjakan para agen pemasaran ini. Mungkinkah itu sebuah ideologi yang dari sononya memang takut dan anti komunisme, meskipun yang ada hari ini cuma tinggal hantunya?


Oleh: Prof. Dr. Riwanto Tirtosudarmo

Bagikan Jika Anda Suka



[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *