Peran Sabam Sirait dan Muchtar Papakhan Sebagai Ruh SBSI

[ad_1]


MultiNewsMagazine.com – Serikta Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) awal mula pendiriannya ketika pada masa pemerintahan Orde Baru berkuasa.

Pasalnya, Orde Baru hanya menetapkan bahwa organisasi buruh hanya ada satu, yakni Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

Namun SPSI yang seharusnya mewakili dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan para buruh dalam kaitan dengan pekerjaannya, pada kenyataannya lebih sering memihak kepada pemilik perusahaan dan pemerintah, yang berkepentingan untuk memelihara kondisi kerja yang menguntungkan para pemilik modal agar Indonesia tetap menarik bagi mereka.

Mengenang Sabam Sirait karena akrab bersama Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) yang sangat fenomenal karena lahir ditengah kekuasaan Orde Baru yang sedang galak-galaknya melakukan penekanan, penangkapan bahkan menghilangkan sejumlah aktivis dari peredaran dan aktivitasnya sehari-hari di Indonesia.

Itulah sebabnya, sejumlah kawan yang tetap gigih bertahan di SBSI dalam keadaan sesulit apapun tampak tegar, karena menyadari sejarah yang telah diukir oleh SBSI dengan suluruh kegiatan dan aktivitasnya demi dan untuk kesejahteraan yang berkeadilan untuk rakyat Indonesia yang dominan jumlahnya adalah kaum buruh.

Mulai dari wartawan, sopir bus, pekerja pabrik, pegawai bank hingga para tukang las dan pekerja di  pertambangan adalah kaum buruh yang masih terus mendapat perlakuan tidak adil dari pihak pengusaha.

Dalam kondisi penguasa Orde Baru yang represif ketika itu,  pun tak banyak yang mau berada di depan garis perlawanan bersama SBSI menghadapi sikap rezim yang ugal-ugalan menangkap dan memenjarakan para aktivis yang dianggap menjadi musuh pemerintah ketika itu.

Sabam Sirait sebagai politisi senior yang terbilang bersih dan jujur serta berani menentang arus, merupakan satu diantara sedikit tokoh yang mau bersama, bahkan mendukung SBSI di jaman rezim otoriter ketika itu, nyaris selalu bersama atau mendampingi SBSI utamanya pada saat genting dan sulit.

Bagikan Jika Anda Suka

Karena itu wafatnya Sabam Sirait pada Kamis malam pukul 22.15 tanggal 29 September 2021 menjadi berita yang menghentak, mencenungkan, khususnya bagi aktivis SBSI.

Setidaknya,  setelah kepergian Muchtar Pakpahan lalu menyusul kemudian Sabam Sarait, seakan lengkap sudah tanggung jawab sejarah yang telah dibangun sejak Orde Baru hinngga melintasi Orde Reformasi (1998 dan seterusnya) harud dipikul sepenuhnya oleh generasi penerus.

Sebab sejarah besar yang sudah dibangun oleh SBSI semasa Orde Baru dulu itu, kini berada sepenuhnya dipundak kalian generasi penerus untuk melajutkan cita-cita besar dan luhur dari para pejuang SBSI yang telah mendahuli kitsla, pergi kepangkuan Illahi Rabbi.

Oleh sebab itu, untuk meneruskan cita-cita luhur para pendahulu kita itu, bukan hanya merupakan tanggung jawab, tetapi juga akan menjadi bhakti nyata kita sekaligus wujud penghormatan dan penghargaan tertinggi kepada mereka yang telah tiada itu.

Mengenang Sabang Sirait dan Muchtar Pakpahan yang telah mendahului kita, adalah mengenang sejarah besar yang pernah mereka goreskan semasa Orde Baru melalui SBSI hingga memasuki Orde Reformasi.

Atas dasar itu, menjadi sangat relevan untuk menjadi bahan perenungan menjelang Kongres ke-7 SBSI pada 5-7 November 2021, bahwa esensi dari keberadaan SBSI diantaranya adalah untuk memperindah catatan sejarah masa lalu yang tak boleh punah itu.

Jiwa patriotis mereka yang sejati akan tetap hidup abadi dalam nyala api semangat gairah perjuangan SBSI.

Sabam Sirait dan Muchtar Pakpahan bagi eksponen dan aktivis SBSI akan tetap menjadi ruh organisasi buruh yang telah cantik mengikir sejarah sepanjang Orde Baru berkuasa hingga tumbang oleh Orde Reformasi.

Jacob Ereste

Bagikan Jika Anda Suka



[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *