Peningkatan SDM Melalui Beasiswa di Belanda

0
121

Telegraf, Jakarta – Salah satu Kerjasama Bilateral antara Indonesia Belanda adalah pemberian beasiswa untuk masyarakat Indonesia yang berprestasi, dimana beasiswa ini adalah merupakan bagian kebijakan kerjasama pembangunan pemerintah Belanda, dengan nama StuNed.

Stuned dari kata Studeren in Nederland atau studi di Belanda, yang bertujuan meningkatkan sumber daya manusia dan kapasitas institusi, memperkuat kerjasama kedua negara serta meningkatkan efektifitas program program kerja yang sedang berjalan.

Beasiswa ini sudah berjalan sekitar 18 tahun sejak di resmikan tahun 2000, lebih dari 4.500 pelajar Indonesia yang memperoleh pendidikan di Belanda, banyaknya alumni StuNed yang menjadikan diresmikannya suatu wadah bagi alumni yang di harapkan berkontribusi dalam masyarakat dan memperkuat kesinambungan kerjasama antara Indonesia dan Belanda (Ikatan Alumni StuNed) dengan nama I Am StuNed.

Untuk tahun ini 2018 terpilih 55 pelajar Indonesia yang mendapatkan beasiswa ke Belanda dengan banyak Jurusan dimana StuNed memprioritaskan beberapa bidang seperti yang tercantum dalam Multi Annual Policy Framework yaitu Perdagangan Internasional, Keuangan dan Ekonomi , Transportasi, (Agro) Logistik dan Infrastruktur, Keamanan dan Penegakan Hukum ,  Agro-Pangan dan Hortikultura.

“Tahun akademik September 2018 ini, pelamar beasiswa StuNed bersaing ketat pada proses Administrative assessment, Competitive and excellence-based assessment. Lima puluh lima kandidat unggul berhasil mendapatkan dukungan dari StuNed untuk melanjutkan program Master di sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Belanda. Penerima beasiswa StuNed tahun ini tidak hanya kualitas yang terpantau semakin tinggi namun juga dinilai lebih beragam dari sisi latar belakang profesi dan pilihan program studi,” ungkap Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl, di Jakarta.

Dalam rangka pembekalan untuk mahasiswa baru (penerima beasiswa untuk pemberangkatan 2018), dan I Am Stuned berkumpul dengan agenda StuNed Welcoming Session, dimana agenda tersebut diharapkan sebagai perkenalan sekaligus memberikan pemmahaman kepada penerima beasiswa, terkait dengan pendidikan di Belanda dan juga persiaan sebelum keberangkatan.

Di temui di tempat yang sama Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro mengatakan previlage ini jangan di sia siakan, gunakan sebaik mungkin, dan belajarlah gia, jangan hanya belajar tetapi juga aktifitas aktifitas lain yang positif yang bisa di bawa ke Indonesia.

“Dari 55 pelajar yang beruntung, pendidikan itu penting untuk anda bisa maju, saya harapkan kalian bersyukur dan belajar dengan rajin, karena setiap manusia cara belajarnya berbeda beda dan bancak alasan untuk tidak belajar, jadi gunakanlah sebaik mungkin,” ungkapnya minggu (20/05/18).

Azis Nurwahyudi Direktur diplomasi Publik Kementrian Luar Negeri dan juga alumni beasiswa Belanda mengatakan kegiatan akan meningkatkan kontak antar masyarakat dari kedua negara bahkan jauh lebih dari kedua negara, tetapi juga disana akan bertemu dengan beberapa pelajar pelajar di luar Belanda.

“Sebenarnya jauh dari kedua negara karena tentunya teman teman yang akan belajar ini akan mempunyai kontak dengan teman teman mereka yang berasal dari negara lain selain dari Belanda,” kata Azis.

Azis mencontohkan alumni StuNed di Kementrian Luar Negeri beberapa diantara mereka telah menempati beberapa posisi tertentu dan di tempatkan di berbagai negara seperti Anisa Sofia yang di tempatkan di KBRI New Delhi serta Yudit yang akan di tempatkan di KBRI Suriname.

Sementara itu salah satu alumni StuNed 2015 Edwin Akbar Lubis (29) menuturkan pengalaman waktu mendapatkan beasiswa dari StuNed. StuNed itu lebih simple dibanding beasiswa beasiswa lain, yang harus di kuatkan adalah bahasa Inggris karena nanti di Belanda kita seharai hari mengunakan Bahasa Inggris.

“Kita hanya menyiapkan berkas berkas untuk pengurusan visa dan pengurusan tempat tinggal selain itu pihak StuNed yang handle semua,” kata Edwin.

Lulusan Internasional and European Tax law dari Maastricht University ini mengatakan beasiswa itu bukan hanya untuk orang orang pinter/ cerdas, sebenarnya beasiswa itu untuk orang orang yang mau usaha, kemauan itu akan mendapatkan hasil.

Hal serupa juga di katakan Retno Puspitasari (28) sekaligus alumni corporate and comercial law di Maastricht University ini menuturkan, memperoleh beasiswa itu bukan akhir perjuangan tetapi awal/ babak baru perjuangan.

“Dapet beasiswa itu justru malah bukan akhir dari perjuangan tetapi malah menjadi awal perjuangan yang lebih berat itu disanannya,” ungkap Retno. (Red)


Photo Credit : Peningkatan SDM melalui Beasiswa di Belanda. FILE/Dok/Ist. Photo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here