banner 728x250

Perempuan Hamil Berisiko Lebih Tinggi Sakit Kritis Akibat COVID

  • Bagikan
banner 728x90

[ad_1]

Dokter dan bidan mendesak para calon ibu agar divaksinasi. Data baru dari Layanan Kesehatan Nasional Inggris mengungkapkan hampir 20 persen orang yang sakit COVID-19 dalam keadaan kritis adalah perempuan hamil yang tidak divaksinasi. Ada pula keprihatinan mengenai banyaknya perempuan hamil di unit perawatan intensif karena kehamilan menimbulkan risiko sakit parah karena virus corona yang lebih tinggi.

Sewaktu Kobe lahir pada Agustus lalu, sang ibu, Kelsie Routs tidak langsung menimangnya.

Pada usia kehamilan 29 minggu, ia sakit parah karena COVID. Ia kemudian sengaja dibuat koma dan ketika terbangun, ia melihat bayinya sudah lahir. Routs mengatakan ia tidak menyadari apa yang terjadi padanya. Routs kini menyesali keputusannya untuk tetap tidak divaksinasi.

Ibu-ibu hamil tengah menunggu divaksinasi COVID-19 di Chennai, 5 Juli 2021. (Photo by Arun SANKAR / AFP)

Ibu-ibu hamil tengah menunggu divaksinasi COVID-19 di Chennai, 5 Juli 2021. (Photo by Arun SANKAR / AFP)

Ia mengatakan,”Kalau diberitahu kita akan dibuat koma dan berpotensi meninggal, saya pikir kita akan mempertimbangkannya lebih jauh. Tapi ya, saya pikir saya akan mendapatkannya sekarang.”

Data baru-baru ini menunjukkan hampir 20 persen dari pasien COVID yang sakit hingga kritis ternyata adalah perempuan hamil yang tidak divaksinasi.

Dr Jo Mountfield, konsultan kebidanan dan Wakil Presiden Royal College of Obstetricians and Gynaecologists mengatakan sekarang ini ada cukup banyak bukti untuk mendorong perempuan hamil agar mendapatkan vaksin.

Ia mengatakan,”Kami tahu jika Anda mengidap COVID sewaktu hamil, terutama pada usia kehamilan lanjut, ada risiko Anda mungkin mengalami COVID yang serius. Anda mungkin harus dirawat di rumah sakit. Anda dapat menerima vaksin pada tahap kehamilan manapun. Kami menerima data yang kian banyak yang menunjukkan bahwa vaksin tidak meningkatkan risiko keguguran, tidak meningkatkan risiko janin lahir mati, dan tidak meningkatkan kelahiran prematur.”

Data menunjukkan bahwa mengidap COVID-19 semasa kehamilan dapat meningkatkan peluang lahir prematur.

Seorang perawat tengah membantu ibu hamil yang terpapar COVID-19 di Paris, Prancis, 17 November 2020. (Martin BUREAU / AFP)

Seorang perawat tengah membantu ibu hamil yang terpapar COVID-19 di Paris, Prancis, 17 November 2020. (Martin BUREAU / AFP)

Olivia Buxton dirawat di rumah sakit karena COVID-19 pada bulan Desember lalu, sewaktu vaksin belum tersedia.

Hasil pemindaian tidak lama setelah itu menunjukkan janinnya berhenti tumbuh dan cairan ketubannya sangat sedikit – suatu hal yang jelas sangat berbahaya bagi janin.

Buxton mengemukakan, “Janin bisa lahir mati. Jadi ketika itu mereka kemudian mengatakan bahwa mereka akan menginduksi saya. Jadi dalam 48 jam setelah membuat keputusan itu, mereka membawa saya ke rumah sakit, dan saya diinduksi; Jude lahir pada usia kehamilan 39 minggu.”

Bagi perempuan hamil, keputusan untuk mendapatkan vaksin atau tidak, secara emosional mungkin terasa rumit, tetapi para dokter menyatakan bahwa saran mereka jelas, perempuan hamil dapat dan harus divaksinasi.

Mereka menyatakan vaksinasi tidak meningkatkan risiko bagi ibu dan bayi dan justru mungkin dapat menghindari risiko bayi lahir mati. [uh/ab]

[ad_2]

Source link

banner 728x90
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *