SOLUSI EKONOMI SIRKULAR UNTUK INDUSTRI BUDIDAYA KELINCI BERBASIS LIMBAH PERTANIAN

SOLUSI EKONOMI SIRKULAR UNTUK INDUSTRI BUDIDAYA KELINCI BERBASIS LIMBAH PERTANIAN

Multinewsmagazine.com – Mahasiswa Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Melalui inovasi pakan kelinci berkelanjutan berbasis limbah pertanian, mereka berhasil meraih Juara 1 Kompetisi Ide Bisnis bertema Sustainability Rabbitry yang diselenggarakan oleh Rabbit Ranch, Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran.

Prestasi tersebut diraih melalui proyek bisnis bertajuk RaBite – From Waste to Wellness, sebuah solusi pakan kelinci bernutrisi tinggi yang dikembangkan dengan pendekatan ekonomi sirkular. Inovasi ini tidak hanya menjawab persoalan limbah pertanian, tetapi juga menghadirkan alternatif pakan berkualitas dengan harga terjangkau bagi peternak kelinci di Indonesia.

Tim Rabbids Invansion terdiri atas Dedi DjunDjun Putrawan (Manajemen Rekod dan Arsip, Vokasi UI), Yosua Tarigan (Sastra Belanda, FIB UI), dan Alifa Sari (Bisnis Digital, FEB Universitas Negeri Surabaya). Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi kekuatan utama dalam merancang model bisnis yang matang dan aplikatif.

RaBite dikembangkan sebagai respons atas tingginya volume limbah sayuran di Indonesia yang mencapai sekitar 2,8 ton per hari, yang selama ini menimbulkan kerugian ekonomi dan permasalahan lingkungan. Limbah tersebut diolah menjadi pakan kelinci berbahan dasar sayuran sisa, dedak, dan ampas tahu yang difermentasi menggunakan probiotik, sehingga menghasilkan pakan dengan kualitas nutrisi yang lebih stabil.

Keunikan RaBite terletak pada penggunaan edible coating berbahan pati kulit singkong, yang berfungsi memperpanjang usia simpan pakan sekaligus menjaga kandungan nutrisi. Inovasi ini memungkinkan peternak memperoleh pakan yang lebih efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan.

Tahapan kompetisi diawali dengan seleksi proposal bisnis dalam format Business Model Canvas (BMC). Tim Rabbids Invansion berhasil meraih peringkat pertama pada tahap penyisihan dan melaju ke babak final bersama sembilan tim terbaik lainnya. Pada tahap final, Dedi dan tim mempresentasikan pitch deck yang menekankan kelayakan finansial, strategi pasar, serta dampak keberlanjutan dari ide bisnis yang diusung.

Dedi, selaku perwakilan tim, menyampaikan bahwa RaBite dirancang agar dapat diimplementasikan secara nyata. “RaBite kami rancang sebagai solusi bagi peternak kelinci. Limbah yang selama ini menjadi beban lingkungan dapat diolah menjadi pakan bernutrisi, berkelanjutan, dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Dedi. Meskipun berasal dari prodi Manajemen Rekod dan Arsip, Dedi menyatakan bahwa pembelajaran yang diperolehnya di kelas berperan besar dalam mempersiapkan keikutsertaannya pada kompetisi ini. Berbagai materi perkuliahan tidak hanya memperkuat kemampuan hardskill, tetapi juga mengasah softskill.

Masukan dari dewan juri menegaskan bahwa RaBite dinilai realistis dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut secara komersial. Ke depan, inovasi ini diharapkan mampu mendorong peningkatan daya saing peternakan kelinci di Indonesia sekaligus memperkuat kontribusi generasi muda dalam pembangunan berkelanjutan.

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono, S.E., Ph.D, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “RaBite menunjukkan bahwa mahasiswa UI mampu mengintegrasikan kolaborasi, keilmuan, kewirausahaan, serta kepedulian terhadap isu keberlanjutan global,” ungkap Padang. Menurut Padang, inovasi RaBite sejalan dengan komitmen UI dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Production and Consumption) melalui pemanfaatan limbah, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan sektor peternakan rakyat, serta SDG 2 (No Poverty) dengan penyediaan pakan ternak yang berkualitas dan berkelanjutan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *