PERAN PENDIDIKAN DAN KESETARAAN GENDER DALAM PERILAKU PRO-LINGKUNGAN DI INDONESIA

PERAN PENDIDIKAN DAN KESETARAAN GENDER DALAM PERILAKU PRO-LINGKUNGAN DI INDONESIA

Multinewsmagazine.com – Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi (PPIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menggelar sidang terbuka promosi doktor terhadap Lilia Endriana, dengan disertasinya berjudul “Shaping Pro-Environmental Behavior in Indonesia: The Role of Educational Attainment and Gender Equality”.

Dalam sidang yang berlangsung pada Kamis (8/1) di Gedung Pascasarjana FEB UI itu, Lilia menganalisis relasi antara pendidikan individu serta posisi pendidikan relatif pasangan suami-istri dengan perilaku pro-lingkungan rumah tangga di Indonesia.

Penelitian itu menggunakan data Susenas Modul Ketahanan Sosial 2017 dan dilakukan melalui dua pendekatan. Pendekatan pertama, Lilia memanfaatkan variasi kuasi-eksperimental dari reformasi pendidikan pada 1978. Penelitian itu menerapkan regression discontinuity design dan estimasi two-stage least squares untuk mengestimasi pengaruh pendidikan terhadap tiga indikator perilaku energi.

Kemudian, pendekatan kedua, Lilia menggunakan rasio tahun sekolah istri terhadap suami sebagai proksi utama. Penelitian tersebut mengestimasi model linear probability dan probit dengan kontrol individu, rumah tangga, dan wilayah, serta province fixed effects untuk menilai keterkaitannya dengan enam indikator perilaku pro-lingkungan.

“Pendidikan meningkatkan adopsi teknologi hemat energi, berdampak terbatas pada clean cooking yang hanya signifikan di wilayah perkotaan serta tidak berpengaruh signifikan terhadap penghematan energi rutin. Pola ini konsisten dengan perbedaan biaya, tuntutan pemahaman teknis, serta kendala keterjangkauan dan akses,” jelas Lilia.

Sementara itu, dari sisi relasional, Lilia menambahkan bahwa rasio tahun sekolah istri terhadap suami yang lebih tinggi berasosiasi positif dan signifikan dengan sebagian besar indikator perilaku pro-lingkungan, meliputi penggunaan bahan bakar memasak, adopsi perangkat berdaya rendah, penggunaan lampu hemat energi, pemilahan sampah, dan penghindaran pembakaran terbuka.

“Namun, rasio tersebut tidak berhubungan dengan kebiasaan membawa tas belanja guna ulang,” imbuhnya.

Uji mekanisme potensial menunjukkan adanya jalur kognitif, di mana rasio pendidikan tersebut berkorelasi positif dengan akses informasi dan pengetahuan spesifik perilaku, dan keduanya berhubungan positif dengan perilaku pro-lingkungan.

Secara keseluruhan, pendidikan berkaitan dengan kapasitas mengevaluasi alternatif, sementara posisi pendidikan relatif dalam pasangan berkaitan dengan koordinasi dan pelaksanaan keputusan rumah tangga.

Dalam studi itu, perbedaan antara wilayah pedesaan dan perkotaan pun ditemukan dan konsisten dengan peran layanan, keterjangkauan, dan tata kelola lokal dalam memfasilitasi penerapan perilaku pro-lingkungan.

Implikasinya, temuan itu mendukung kebijakan terpadu yang memperluas pendidikan perempuan, meningkatkan akses terhadap informasi yang kredibel, serta memperkuat layanan publik terkait lingkungan.

Sidang promosi doktor tersebut diketuai oleh Kiki Verico, S.E., MRI., Ph.D. dan diikuti tim pembimbing yakni Prof. Dr. Djoni Hartono  (Promotor) dan Khoirunurrofik, Ph.D. (Ko-Promotor). Tim penguji sidang itu ialah Rus’an Nasrudin, Ph.D.  selaku ketua dan selaku anggota penguji ialah Maxensius Tri Sambodo, Ph.D., Dr. Irfani Fithria Ummul Muzayanah, Jahen Fachrul Rezki, Ph.D., Muhammad Halley Yudhistira, Ph.D., dan Dr. Widyono Soetjipto.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *