PAKAR PARU FKUI: PUASA 12 JAM LATIHAN ALAMI BERHENTI ROKOK DAN VAPE

PAKAR PARU FKUI: PUASA 12 JAM LATIHAN ALAMI BERHENTI ROKOK DAN VAPE

Multinewsmagazine.com – Ramadan dapat menjadi momentum yang tepat bagi masyarakat untuk memulai hidup lebih sehat dengan menghentikan kebiasaan merokok maupun menggunakan rokok elektronik (vape). Puasa memberikan jeda alami selama 12–14 jam tanpa rokok atau vape, sehingga tubuh secara tidak langsung dilatih untuk menahan dorongan nikotin.

Staf Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) – RS Persahabatan, Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), MPd.Ked, menjelaskan bahwa periode puasa sebenarnya dapat menjadi kesempatan baik untuk mulai berhenti merokok.

“Puasa Ramadhan memberikan jeda alami selama 12–14 jam tanpa merokok atau vape. Ini seperti latihan gratis untuk berhenti, karena sejak sahur hingga berbuka kita sudah ‘puasa nikotin’ tanpa sadar,” ujar Dr. Feni.

Namun, menurutnya tantangan sering muncul setelah berbuka puasa, saat tarawih, atau ketika begadang di malam hari. Pada waktu-waktu tersebut, banyak orang berkumpul sehingga godaan untuk kembali merokok atau menggunakan vape menjadi lebih besar.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Feni juga mengingatkan bahwa rokok elektrik atau vape sering dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Padahal anggapan tersebut merupakan mitos yang berbahaya.

“Vape tetap mengandung nikotin yang menyebabkan kecanduan. Selain itu, aerosol atau uap halusnya dapat mengiritasi paru-paru dan menimbulkan keluhan seperti batuk, dahak, napas berat, bahkan sesak, terutama pada penderita asma,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam jangka panjang penggunaan vape juga dapat memperburuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), meningkatkan risiko infeksi saluran napas, serta menurunkan stamina secara perlahan. Tanda kecanduan nikotin antara lain sulit menahan keinginan merokok, merasa gelisah ketika tidak merokok, mudah marah, sulit berkonsentrasi, hingga mengalami gangguan tidur meskipun seseorang sudah mencoba berhenti berkali-kali.

Meski demikian, berhenti merokok dapat memberikan manfaat yang cukup cepat bagi tubuh. Dalam hitungan hari hingga minggu, napas dapat terasa lebih lega, batuk dan dahak berkurang, stamina meningkat, tidur menjadi lebih nyenyak, serta indera penciuman dan perasa membaik.

“Dalam jangka panjang, risiko penyakit paru, jantung, dan pembuluh darah juga turun drastis karena tubuh mulai memulihkan diri dari kerusakan akibat rokok,” kata Dr. Feni.

Ia mencontohkan, setelah sekitar satu minggu tidak merokok, seseorang dapat mulai merasakan peningkatan stamina, seperti mampu berjalan lebih jauh tanpa mudah sesak napas.

Untuk membantu proses berhenti merokok, masyarakat dapat memulai dengan beberapa langkah sederhana. Pertama, menentukan hari pasti untuk berhenti, misalnya pada hari pertama Ramadan. Kedua, mengenali situasi yang biasanya memicu keinginan merokok, seperti setelah makan, saat minum kopi, ketika stres, atau saat berkumpul dengan teman.

Selain itu, kebiasaan setelah sahur atau berbuka dapat diganti dengan aktivitas lain, seperti menyikat gigi, mencuci muka, atau berjalan kaki selama lima hingga sepuluh menit. Lingkungan juga perlu dibersihkan dari rokok atau vape, serta meminta dukungan keluarga dan teman agar tidak menawarkan rokok.

Dalam proses berhenti merokok, beberapa gejala putus nikotin seperti keinginan kuat untuk merokok, gelisah, mudah marah, sulit fokus, insomnia, atau peningkatan nafsu makan dapat muncul. Gejala tersebut biasanya paling kuat pada awal proses, namun akan berangsur mereda seiring waktu.

“Jika keinginan merokok muncul, coba tunda sekitar 10 menit, alihkan pikiran, tarik napas dalam, dan hindari pemicu seperti kopi sementara waktu,” ujar Dr. Feni.

Ia juga menyarankan masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila membutuhkan bantuan tambahan. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah Terapi Pengganti Nikotin (TPN) seperti koyo atau permen nikotin untuk membantu mengurangi gejala putus nikotin.

Apabila seseorang kembali merokok setelah satu atau dua minggu berhenti, Dr. Feni mengingatkan agar hal tersebut tidak dianggap sebagai kegagalan.

“Anggap saja sebagai terpeleset. Cari tahu apa pemicunya, lalu lanjutkan kembali rencana berhenti merokok. Jangan ragu mencari bantuan profesional jika kambuh berulang,” ujarnya. Ia berharap Ramadan dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk memulai hidup yang lebih sehat dan bebas rokok.

Pembahasan mengenai manfaat puasa sebagai momentum berhenti merokok ini disampaikan dalam tayangan edukasi “Bincang Kesehatan Paru” yang diselenggarakan oleh Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI. Program tersebut menghadirkan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), MPd.Ked sebagai narasumber dan dipandu oleh dr. Efriadi Ismail, Sp.P(K) sebagai host.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *