DUA DEKADE PROGRAM STUDI BAHASA DAN KEBUDAYAAN KOREA UI, DARI BAHASA KE JEJARING PROFESIONAL DUNIA

DUA DEKADE PROGRAM STUDI BAHASA DAN KEBUDAYAAN KOREA UI, DARI BAHASA KE JEJARING PROFESIONAL DUNIA

Multinewsmagazine.com –  Dari layar hiburan hingga ruang bisnis, pengaruh Korea Selatan semakin mudah ditemui di Indonesia. Di tengah perkembangan tersebut, selama dua dekade, Program Studi (Prodi) Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakulas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) menjawab kebutuhan pembelajaran dan kajian yang menghubungkan bahasa serta budaya dengan teknologi, diplomasi, hubungan internasional, dan dunia profesional.

Kontribusi Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI tersebut dirayakan dalam Dies Natalis ke-20, pada Jumat (28/8), di Auditorium Gedung 1 FIB UI, Kampus Depok. Dengan mengusung tema “함께한 20년, 함께할 미래” (20 Tahun Bersama, Masa Depan Bersama) atau “20 Years of Korean Studies in Indonesia: Reflection and Future Collaboration”, perayaan ini mempertemukan para akademisi, mahasiswa, alumni, serta mitra nasional dan internasional.

Dekan FIB UI Dr. Untung Yuwono, S.S., memandang forum ini sebagai ruang untuk merefleksikan perkembangan studi Korea sekaligus membahas kolaborasi yang relevan antara Indonesia dan Korea Selatan. Menurutnya, pengembangan Prodi Korea di UI sejak 2006 merupakan keputusan akademik yang sesuai dengan perubahan lanskap global.

“Saat itu, Korea Selatan tengah memperkuat posisi sebagai kekuatan ekonomi dan industri. Negara tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan budaya global. Maka, keputusan FIB UI dua dekade lalu untuk mengembangkan Prodi Korea menjadi investasi akademik jangka panjang yang tepat. Kami tidak sekadar mengantisipasi Korean Wave, tetapi juga membangun kapasitas akademik yang kritis dan kontekstual,” ujar Dr. Untung.

Kapasitas tersebut terlihat dari perkembangan sumber daya pengajar. Ketua Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI Euis Sulastri, S.Hum., M.A., Ph.D., mengatakan bahwa program studi yang awal berdirinya menghadapi keterbatasan pengajar lokal, kini memiliki sembilan dosen tetap, delapan di antaranya bergelar doktor, serta empat dosen tidak tetap. Hal ini untuk menjawab kebutuhan lulusan yang mampu menjembatani perbedaan bahasa dan budaya, terutama di lingkungan kerja yang melibatkan perusahaan Korea di Indonesia.

Penguasaan bahasa dan pemahaman budaya Korea, menurut President of Korean Chamber of Commerce and Industry in Indonesia (KOCHAM Indonesia) Lee Kang Hyun, dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri. Kompetensi tersebut membantu lulusan beradaptasi dengan lingkungan kerja yang melibatkan komunikasi lintas budaya.

Sementara itu, Director of Korea Foundation Jakarta Office Lee Sang Hoon menyebut mahasiswa dan alumni Prodi Korea sebagai “living bridges” yang berperan membangun pemahaman dan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Korea Selatan. Hubungan Indonesia dan Korea Selatan yang semakin luas akan mendorong Prodi Korea untuk merespons isu-isu kontemporer.

 

Seminar akademik membahas pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dalam penerjemahan dan pembelajaran bahasa Korea. Pembahasan juga mencakup pengembangan pendidikan bahasa Korea di Indonesia, Korea-Indonesia Connection (KIC), posisi Korea Selatan sebagai middle power, serta perluasan kemitraan akademik. Beragam topik ini menunjukkan bahwa bahasa tetap menjadi dasar studi Korea, sementara bidang kajiannya terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi, pendidikan, budaya, diplomasi, dan hubungan internasional.

Dalam talkshow bertajuk “Jejak Lulusan Studi Korea: Dari Kampus ke Dunia Profesional”, tiga alumni dari angkatan berbeda berbagi pengalaman mengenai bidang yang mereka tekuni. Silvi Fitri Ayu, angkatan 2006, berkiprah sebagai Tenaga Ahli Komisi II DPR RI dan Analis Kebijakan Badan Supervisi Lembaga Penjamin Simpanan. Alumni angkatan 2009, Tania Triputri, mendirikan dan memimpin TNT Translation. Sementara, Vania Istamitra, angkatan 2019, bekerja sebagai Head of Business Support di VIUUM Eyewear.

Ragam profesi tersebut memperlihatkan luasnya bidang yang dapat digeluti lulusan Prodi Korea, mulai dari kebijakan publik dan keuangan hingga jasa penerjemahan serta industri. Penguasaan bahasa dan budaya Korea menjadi salah satu modal yang dapat dipadukan dengan kompetensi profesional di berbagai sektor.

Memasuki usia 20 tahun, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI telah melahirkan 20 angkatan alumni yang menjadi bagian dari ekosistem akademik dan profesional. Jejaring ini terus diperkuat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi dengan mitra nasional maupun internasional. Ke depannya, tantangan yang harus dihadapi adalah menjaga keilmuan Prodi Korea tetap relevan dengan perubahan kebutuhan dunia profesional.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *